Sekilas Info
Home | Inspirasi | KABINET PEMERINTAHAN BARU 2014 -2019 : Pemenang Pilres 2014

KABINET PEMERINTAHAN BARU 2014 -2019 : Pemenang Pilres 2014

Pemerintahan baru hasil pemenangan piplres 2014 (rencananya akan diumumkan tgl 22 Juli 2014). Siapapun pemenangnya, selayaknya kita ucapkan selamat !!! semoga mampu membawa rakyat dan bangsa INDONESIA (bukan bangsa lain) lebih baik lagi, semoga mampu menjadikan negara INDONESIA (bukan negara lain) lebih kuat, lebih makmur, lebih bermartabat…….  dan jangan lupakan sejarah. 

http://beta.diylol.com/posts/655309-jadi-kamu-membentak-orang-tuamu-bagus-sepertinya-kita-punya-malin-kundang-di-era-modern

http://beta.diylol.com/posts/655309-jadi-kamu-membentak-orang-tuamu-bagus-sepertinya-kita-punya-malin-kundang-di-era-modern

Tanpa memperhatikan sejarah, mustahil bisa mencetak sejarah yang lebih baik untuk Indonesia (entahlah  jika mau mencetak sejarah  untuk negri dan bangsa lain).

Tanpa memperhatikan dan mengingat sejarah, hanya akan mencetak moralitas “malin kundang” atau moralitas genosida (tega menghabisi kelompok yang bukan dari kelompoknya) atau moralitas “potong satu generasi” yang mirip “mutasi dari sikap fasis” – yang tega menghancur leburkan dan merampas semuanya dan pada akhirnya setelah semuanya lupa/tidak tahu, akan didaku sebagai karya2nya.

Apapun itu, jika melupakan sejarah ujungnya adalah munculnya generasi manusia2 yang linglung, generasi yang tak tahu darimana berasal, namun merasa tahu kemana mau pergi (siap2lah untuk menjadi bangsa yang akan diatur sepenuhnya oleh pihak lain) – mohon maaf, seperti generasi “anak pungut yg diputuskan/disembunyikan silsilahnya”.   Mungkin para psikolog paham, apa gejolak jiwa yang ada pada anak yang diputuskan silsilahnya (sejarahnya).

Kyai Mursyid mengingatkan bahwa memutus silsilah keturunan itu perbuatan yang dilarang agama, bahasa lainnya adalah menghilangkan nasab. Silsilah, sajaroh, sejarah itu (bagaimana pun itu) dapat memberikan motivasi serta pijakan yang kokoh untuk perkembangan ke depan, terutama jika moralitas yang akan dikembangkan adalah moralitas yang baik, dan niyat kehidupannya adalah ingin menghadirkan kehidupan yang lebih baik lagi (fastabikul khoirot, better and better).

JASMERAH .   Remind  untuk tidak melupakan sejarah (Jasmerah).  Apa yang di-remind Soekarno tentang kemungkinan comeback-nya penjajajahan jenis baru, bukan isapan jempol. Bukan pula pemikiran :  ala KOPLAK, ala penenggak CUKRIK, ala pembuat BANJIR, a la pembelok sejarah dan serupa itu.

http://www.zazzle.com/satans_a_liar_and_a_deceiver_so_save_your_soul_tshirt-235176527958052540

http://www.zazzle.com/satans_a_liar_and_a_deceiver_so_save_your_soul_tshirt-235176527958052540

Pemerintahan baru, sebaiknya pahami dan belajar dari sejarah bangsa sendiri.  Juga menyadari bahwa di sekitar dirinya banyak pembisik yang biasanya terdapat manusia KOPLAK dkk. Manusia KOPLAK terkadang menyuarakan membenci fasis, meski perilakunya malah jauh LEBIH fasis, bahkan terhadap sesama bangsa sendiri (bagi yang suka niteni, silakan cermati di berbagai tulisan atau media atau orasi).

Sejarah telah mencatat bahwa begitu banyak kekeliruan yang telah dilakukan oleh pendahulu, namun juga lebih banyak hal2 baik  yang telah dengan benar dilakukannya untuk memajukan bangsa dan negara Indonesia. Tanpa mau mempelajari kekeliruan dan hal2 baik dari pendahulu, mustahil bisa dikatakan LEBIH baik. Sebab kata LEBIH sendiri harus memiliki rujukan pembanding. Bahkan kata BAIK sendiri pun membutuhkan pembanding.

Tanpa mau mempelajari kemuliaan dari pendahulu, maka hanya akan membuat pola sejarah a la “roda pedati”.

 

 

https://rdrevilo.wordpress.com/tag/sun/

https://rdrevilo.wordpress.com/tag/sun/

Sadari Selalu Ada Penyesat. Penyesat (setan), selalu meng-update diri dengan berbagai informasi. Setan (berbentuk manusia) akan selalu ada, karena telah berjanji untuk menyesatkan manusia sampai kiamat. Yang diperlukan adalah sadar bahwa itu memang ada, lalu waspada dan bermohon kepada Allah untuk dihindarkan dari penyesatan. Tentu ini tidak berlaku pada manusia yang telah mentakdirkan dirinya menjadi “setan”.

Tindakan dan ucapan setan selalu logis dan terkadang mengandung informasi aktual dan faktual. Namun ujungnya jelas, sesat.

Dalam bernegara, sesat itu mungkin bisa digambarkan sbb :  ”I dont’t care about yesterday,  we live for tomorrow. Let’s we do better, let’s we create the great thing, create the master piece…..”  Nah …….. logis kan ? mengatakan lupakan atau sebodo amat dengan yang kemarin, lupakan sejarah, namun perilaku dan omongannya malah justru menunjukan ingin mencetak sejarah baru (ini nih ujungnya)  … kelihatan aneh kan ? itulah bentuk penyesatan berpikir alias CUCI OTAK.

Ilustrasinya sbb : ada bagunan megah kokoh dan memberikan manfaat bagi banyak orang, sebagain orang nggak suka (tepatnya ngiri) melihatnya. Kebetulan memang karya itu mengandung cacat dan sebagian penggemar bangunan itu pongah dan berperangai buruk (meski tidak semuanya sepeti itu).

Entah apa motivnya (apa asli dari dirinya, pesanan dari pemilik bangunan sebelah, dari “investor” yang melihat kehebatan dan strategisnya bangunan, atau nggak tahulah), seseorang memprovok dengan mengedepankan fakta2 dan logika2, bahwa bangunan itu harus dihancur leburkan.

Setelah berhasil dihancur leburkan, kemudian dibangunlah tenda yang penuh dengan kedai2 seperti mie instant, nasi kucing, bebas ngopi sampai kedai bebas nenggak miras. Agar variasi kedai memiliki global teste, maka para investor luar dipersilakan untuk membuka lapak di lokasi  yg telah hancur lebur itu, dsb.

Ada keramaian dan “suasana baru” yang mengobati kerinduan adanya bangunan yang nyaman aman dan manfaat ( karena sudah rata dengan tanah akibat sebelumnya telah dihancur leburkannya itu).

Tentu saja masyarakat awam akan melihat sebagai sebuah hal yang baru dan menjawab kebutuhannya (terutama masyarakat yang hobinya protes dan nenggak miras atau serupa itu). Bahkan investor pun akan memuji2 tokoh Koplak ( yang merusak rumah sendiri dan membangun kembali ) sebagai panglima yang patut “diteladani” (lebih tepatnya : tokoh yamg memberikan keuntungan dan kenyamanan untuk mendapat keuntungan bagi investor).

Generasi muda yang baru gedhe atau yg lahir setelah situasi hancur lebur, tidak pernah tahu atau terbutakan bahwa disana pernah ada bangunan bagus dan bermanfaat. Kini mereka justru melihatnya secara terpesona terhadap deretan kedai2 lokal dan global teste, dan akan menyimpulkan bahwa ini hal yang baru dan luar biasa ( cuci otak telah berhasil, ada juga yang justru nunggu belanja warisan yang ciamik dengan cara memprovok sebagai najis bin jelek).

Karena kemistri pujian terhadap tokoh dan “hal yang baru” itu dan sambutan yg marak atas suasana “mirip egaliter”itu, maka dunia luar memberikan apresiasi bangunan baru yang berupa tenda,  dilabel dengan nama “mahakarya adiguna sasana budaya koplak”.

Inikah Yang Diinginkan ? Yang terkadang dilupakan adalah bahwa bukan bangunan itu yang keliru, tapi membangun itu dimulai dari jiwanya. Kalau sekedar membangun fisiknya, maka asal ada duit (bisa ngutang, bisa jual warisan, bisa ngundang investor, bisa apa saja ) siapa pun bisa.

http://indonesiamelawan.wordpress.com/2009/page/2/

http://indonesiamelawan.wordpress.com/2009/page/2/

Jika caranya dimulai dengan merobohkan apapun bangunan yang telah ada – membangun dari nol, reply map. Lalu setelah rata dengan tanah barulah membangun sesuatu – bisa tenda atau mungkin bangunan yang lebih megah, bergantung berapa besar jumlah uang tersedia – entah dari ngutang atau dengan cara “hutang budi”  atau melalui menjual warisan, dsb.

Konon,  cara yang paling mudah adalah (1) jual warisan (pihak pembeli tentu milih yang paling strategis, warisan berupa supermall akan lebih dilirik ketimbang warisan yang berupa angkringan nasi kucing),  (2) mengundang investor (tentu investor punya pamrih, uang berkembang, peduli amat apakah menghadirkan manfaat untuk rakyat setempat), dan (3) cara ngutang (tentu pihak yang memberikan hutang punya syarat dan ada kepentingan di dalamnya)

Jika demikian, maka yang dilakukannya itu kan sama saja dengan moralitas pembangun sebelumnya, malah bisa jadi lebih buruk.  Soal memberi manfaat pada rakyat/penduduk setempat, itu tidak ada dalam jurnal pembukuan tahunan pemilik modal.

Wajar saja jika  konsep dan peruntukannya bisa jadi di rancang oleh investor ( tentu dalam rangka kepentingan investor), minimal investor ikut cawe-cawe.  Disni peran kepala pemutus kebijakan harus kuat, dan. berpihak pada kepentingan rakyat dan negara INDONESIA.  Jika mampu tidak ber-KKN dan memgang visi yang bagus serta menjaga akhlak mulia, maka investor akan hormat dan hasilnya akan jauh lebih bagus untuk rakyat dan negara INDONESIA serta investor.

Kalau kepala pemutus kebijakan sikapnya tidak lebih tegas dari kepala pemutus kebijakan sebelumnya, seperti lemah dalam keberpihakan kepada kebenaran dan keadilan untuk rakyat (meski mungkin di mulut dan tampilan seolah berperilaku menyerupainya), dan atau terlanjur banyak berjanji dengan pihak2 luar – apalagi “hutang budi”, maka kepala pemutus kebijakan itu bagaikan burung yang patah sayapnya. Hanya bisa berangan-angan, hatinya ngenes.

Selebihnya, ya tinggal tunggu saja problem-problem besar akan datang. Na’udzubillahi min dzalik.

Wallohu a’lam

Jaman Semakin Maju. Bagi yang hobi mengamati, mumpung masih hangat. Coba2 simak  di file You Tube, menjelang atau selama berlangsungnya pilpres atau kalau perlu file pileg. Lalu down load dan simpan segera (sebelum “beritanya” dirubah sebagaimana heboh media di negri Indonesia).

Simpan baik2, terutama jika ada penyampaian pesan yang disampaikan ke sekelompok anak muda itu mengandung inti : bahwa yang melihat sejarah itu menujukan sebagai kaum orangtua. Pada moment dan konteks yang sama, dinyatakan, kalau orang muda adalah yang melihat ke depan.”Komunitas kita adalah komunitas orang baik2, yang diluar komunitas itu adalah orang2 yang … (buruk). Kita membangun masa depan, yang kemarin2 itu ….(buruk), yang ada di masa lalu itu juga seperti itu (buruk)”.

Jika anda cinta Indonesia, ada baiknya amati perjalanan ke depan dari pembicara dan komunitas tersebut, karena boleh jadi ini adalah bagian dari metoda CUCI OTAK dari  manusia2 KOPLAK yang tak terasa mentakdirkan dirinya jadi follower and looser.

Ada juga pernyataan serupa itu,  namun amat berbeda missi dan moralitasnya,  seperti pernyataan bahwa suatu generasi akan digantikan oleh generasi berikutnya, atau bahwa generasi muda adalah harapan masa depan bangsa, generasi muda adalah tumpuan harapan bangsa dan negara. Bagi kaum KOPLAK, pernyataan seperti ini mungkin saja dikategorikan sebagai pernyataan klasik atau klise (lebih tepanya adalah karena tidak sejalan dengan pikiran dan missinya).

Wallohu a’lam.

http://www.andaka.com/kontes-popularitas-calon-presiden-indonesia-pada-pemilu-2009.php

http://www.andaka.com/kontes-popularitas-calon-presiden-indonesia-pada-pemilu-2009.php

Sekarang kita memasuki jaman demokrasi dan keterbukaan dengan berbagai kemajuan yang bagaimana pun juga adalah hasil karya generasi sebelumnya dengan segala KEKURANGAN dan kelebihannya. Mulai jaman bung Karno (1945-1967), jaman pak Harto (1967-1998), jaman Reformasi mulai pak Habibie, Gus Dur, bu Mega dan pak SBY, serta pemerintahan hasil pemilu 2014.

Beberapa waktu kemarin, saat kampanye, ada poster yang memunculkan gambar the Smilling General dengan slogan berbahasa Jawa “Piye Kabare ………”. Sepertinya pesan yang ingin disampaikan adalah let’s go back to yesterday.  Tentu saja ini mengundang simpati dan empati atau reaksi beragam.

Kekurang dan Kelebihan Orde Baru.  Kalau ngomongin kelebihan orde baru, terkadang  mengundang reaksi negatip pada sekelompok orang. Namun untuk menjadikan INDONESIA lebih baik lagi, maka membahas KEKURANGAN-nya, mungkin akan dirasakan akan lebih pas dan menarik.

Seperti hal yang lainnya, pembahasan kali ini pun sama sekali TIDAK ILMIAH, hanya berdasarkan ilmu “niteni”.

Orde baru (seolah) secara system menumbuhkan efek adanya marginalisasi sekelompok orang. Marginalisasi ini diakibatkan oleh banyak faktor beberapa diantaranya adalah : pendekatan yang otoriter, yang terkesan menolak pandangan yang berbeda (misal  perbedaan pendapat soal membangun bangsa dan negara).  Meski jika ditinjau lebih dalam, pendekatan secara otoriter (sebagaimana di saat orde baru) itu  mengandung kebenaran dan berbasis kebutuhan yang diorientasikan untuk Indonesia saat itu.

Otoriterianisme (boleh jadi) dilakukan agar bangsa yang belum sepenuhnya terdidik  dan tersejahterakan, serta masih banyaknya aksi separatis,  mudah di-organized dan mudah pula dilakukan penanganan, terutama jika terjadi hal-hal yang diluar konteks pembangunan. Orde baru memperkenalkan konsep pengelolaan negara dengan suatu roadmap yang dinamakan GBHN dan Repelita. Konsep ini begitu rupa detail dan terstrukturnya, bagai semacam “partitur” musik untuk symphony yang berjudul Pembangunan Indonesia Seutuhnya.

(Pendidikan : saat awal orde baru, belum ada SD Inpres atau semaraknya sekolah swasta, termasuk perguruan tinggi dan lembaga pendidikan/pelatihan. Kesejahteraan : saat awal orde baru, belum ada puskesmas sampai ke pelosok negri,  belum ada listrik masuk desa, telepon masuk desa, jalan aspal masuk desa, bendungan dan irigasi pertanian belum banyak, dsb. Aksi separatisme dan pembrontakan masih kenthal, karena belum selesainya proses kejiwaan seluruh suku bangsa dalam mengimplementasikan bhineka tunggal ika dan NKRI. Ini soal proses yang sudah tentu soal waktu)

http://www.tonybanksmusic.co.uk/artists.php?KT_az=all

http://www.tonybanksmusic.co.uk/artists.php?KT_az=all

Berbagai detail dari hampir semua aspek kehidupan berbangsa (Ipoleksosbud Hankamnas) serta berbagai detail tentang aspek lingkungan strategis (geopolitik dan geostrategy yang tertuang dalam wawasan nusantara) pun mudah dipahami oleh mereka yang saat itu sudah masuk dalam “main stream” sebagai pemain orkestra akbar bernama KORPRI (korps pegawai negri Republik Indonesia) dan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) yang menjadi  mesin Pembangunan Indonesia saat itu.

Bisa dikatakan, (saat itu) Indonesia pantas memiliki keyakinan yang kuat, karena memliki pemain orkestra yang teroganisir, memiliki partitur yang jelas dan rinci serta mudah diiuti oleh semua pemain orkestra, dan …. memiliki dirigen yang kokoh, disegani sekaligus ditakuti oleh semua pemain orkestra, penonton bahkan orang2 di luar stadion yang berjarak dekat maupun yang jaraknya jauh.

Kelemahan Orde Baru. Keyakinan mendalam akan konsep yang dikembangkan orde baru, memberikan semangat membangun pada seluruh pemain dari orkestra akbar Pembangunan Indonesia Seutuhnya. Dari Presiden sampai tingkat RT memiliki “partitur” musik yang sama, dari mentri sampai kepala kantor pemerintahan di tingkat kecamatan juga demikian, dsb sehingga pemahaman rencana pembangunan terminimalisir dari penafsiran yang berbeda-beda.

Begitu pun membangun suasana yang kondusif di seluruh negri untuk kelancaran pelaksanaan pembangunan, dilakukan dengan cara otoriter.

http://www.johndavidmann.com/journal/page/2/

http://www.johndavidmann.com/journal/page/2/

Soeharto yang menjadi “dirigen” orkestra begitu piawainya memainkan stik untuk mengkonduksi dan membangun harmoni irama musik dan gelora semangat para pemainnya. Namun Soeharto juga memiliki sistem pendengaran yang luar biasa, sehingga suara apapun di luar partitur yang bernada “minor”  (dari sudut manapun, dengan desibel sekecil apapun), akan terdengar olehnya.

Soeharto pun dengan tersenyum khas memberikan sinyal untuk menjaga agar harmoni berjalan dengan baik. Kekuatan Soeharto begitu rupa dalam meng-konduksi musik serta menjaga harmoni orkestra.  Bahkan ibarat kata jika Soeharto hanya berdeham saja,  atau memainkan cerutunya, semua sudah paham maksudnya.

Wajar jika ada kesenjangan psikologis antara pemain orlestra (di satu sisi) dengan pihak penonton dan orang2 di luar stadion, terutama jika diantara mereka terdapat kesenjangan rasa atau semacam trauma. Kesenjangan psikologis dan trauma, pada sekelompok orang, terkadang memberikan efek antipati.


Ilustrasinya adalah : konser akbar group hebat dengan sound system dan tata panggung hebat. Pada umumnya akan mampu “menyihir” siapa saja yang melihat dan mendengarnya untuk secara sukarela bergabung menyanyikan irama musik yang dibunyikannya. KECUALI, mereka yang : sakit gigi, benci pada aliran musik itu, dendam pada sosok pemimpin/personil group, dsb.

Jika ini sebuah kelemahan, maka pak Harto belum sempat melengkapi timnya yang menampung aspirasi kegelisahan dan kesenjangan psikologis dari rakyatnya yang tidak terlibatkan dalam proses pembangunan atau yang belum tersentuh secara penuh aspek pembangunan, dsb.

Secara efek, dirasakan sebagai “pemarginalisasian secara terstruktur”, padahal, tidak ada pemimpin sejati Indonesia ( yang benar2 beriman, dan insya Allah termmasuk pak Harto) yang punya maksud demikian.  Namun harus diakui bahwa pak Harto juga manusia, yang punya lupa khilaf dan keterbatasan serta emosi.

Diantara para khotib dan aktivis masjid, ada yang menjadi korban lantaran bersuara “aneh” terhadap apa yang dilakukan dengan label pembangunan nasional itu. Namun layaknya khotib dan aktivis masjid, mereka itu sebanarnya sedang amar ma’ruf nahi munkar, ya untuk kebaikan bersama. Mereka tetap berkhusnudz dzon,  diperlakukan apapun, termasuk saat Soeharto dan tim menggagas penyeragaman masjid.

Bagaimana pun, pembangunan masjid2 yang dikendalikan tim pak Harto, direspons beragam, bahkan sebagian direspon negatip, karena dipandang sebagai upaya membungkam kegiatan amar ma’ruf nahi munkar. Seolah pemimpin selalu benar dan tidak boleh diberi masukan, kritik, koreksi, dsb. Tentu saja bagi kelompok rakyat seperti ini akan menciptakan masalah sosial berbalut religi.

Masalah dasarnya adalah tidak ada saluran yang reciprocal untuk meminimalisir kesenjangan kejiwaan atau kegelisahan rakyat yang menjadi dampak/ekses pembangunan, yang merasa terabaikan, merasa termarginalisasi.

http://dir.coolclips.com/Sports/Recreational_Sports/Hiking_and_Camping/Great_Outdoors/Cartoon_lady_with_firewood_cart0161.html

http://dir.coolclips.com/Sports/Recreational_
Sports/Hiking_and_Camping/Great_Outdoors/Cartoon
_lady_with_firewood_cart0161.html

Dampak Sistem Orde Baru (1).  Terkumpulnya ranting-ranting kering.  Di luar para pemain orkestra, muncul efek manusiawi.  Di luar pemain orkestra, ada fakta bahwa sebagian warganya terabaikan, termarginalisasi.  Sebagian mengatakan bahwa itu hanya perasaan saja karena tidak mau bergabung memainkan musik Pembangunan Indonesia Seutuhnya, sebagian lagi mengatakan bahwa memang dikonsep ada upaya memarginalisasi pihak-pihak yang dipandang tidak sejalan.

Terlepas benar tidaknya semua di atas, memang cara otoriter dimanapun akan menimbulkan efek seperti itu.

Para pemain begitu antusias memainkan, karena secara fakta, begitu banyak pencapaian yang terjadi dari kegiatan2 yang dilakukan. Pengendalian penduduk, pemerataan pendidikan melalui perbanyakan dan percepatan pembangunan SD Inpres sampai Perguruan Tinggi, perbanyakan dan percepatan penyebaran pusat pelayanan kesehatan masyarakat, perbanyakan dan percepatan pengembangan pusat-pusat produksi pertanian dan peternakan, dsb.  Perbanyakan pusat pembangkit tenaga listrik sampai program listrik masuk desa, modernisasi sistem telekomunikasi dari membangunan Sistem Komunikasi Satelit Domestik sampai program telepon masuk desa, dsb.

Diantara daerah dan sekelompok warga yang terkena imbas positip dari laju pembangunan, tentu saja terdapat yang belum tersentuh, ada juga yang seolah tidak disentuh karena berbagai alasan, (mungkin) karena terdapat perbedaan mendalam dengan rezim yang berkuasa.

Efek (ter)marginalisasi dan tidak/belum tersentuh oleh laju pembangunan, telah menyuburkan perasaan dan kehidupan yang antipati. Sehingga apapun “musik” yang dinyanyikan oleh orkestra, akan terdengar sebagai nada yang sumbang, nada yang fals.

Tak sedikit kondisi itu (terdengar oleh sebagian rakyat sebagai sumbang dan fals) memunculkan tokoh-tokoh yang diidolakan di berbagai bidang : syair, musik, seni budaya, sampai yang berlabel intelektual.

Di sisi lain, keyakinan dan fakta pencapaian yang dirasakan oleh para pemain orkestra, membuat musik dibunyikan semakin kencang. Kedua kondisi kejiwaan ini, mempercepat proses terjadinya polarisasi di tingkat rakyat yang dimotori oleh “elit”.

Wajar saja jika kaum yang (merasa) termarginalisasi dan terabaikan semakin muak dan anti pati dengan musik dan orkestra maupun judul lagunya.

Perkembangan sejarah bangsa yang masih relatip muda, tingkat pendidikan yang belum sepenuhnya merata, mutu pemahaman berbangsa yang masih setingkat TK (istilah Gus Dur), membuat suasana semakin emosional. Ada yang mengibaratkan mirip kumpulan ranting2 kering, yang akan mudah terbakar.

Sejarah ini perlu diambil hikmahnya, BUKAN untuk menjelek-jelekan generasi terdahulu.  Sehingga dapat menemukan cara yang lebih baik untuk melangkah ke depan dalam memajukan, memakmurkan, mensejahterakan, dsb bangsa dan negara INDONESIA (bukan bangsa dan negara lain).

http://www.hdphotogallary.com/2013/04/hd-storm-wallpapers.html

http://www.hdphotogallary.com/2013/04/hd-storm-wallpapers.html

Dampak Sistem Orde Baru (2).  Ritual Mengundang Badai. Birokrasi yang memiliki keyakinan mendalam karena sindroma kesuksesan  dari pembangunan yang dilakukannya.

Dengan konsep otoriter, telah memungkinkan adanya seseorang duduk di suatu posisi birokrasi dalam waktu yang lama.

Mempertahankan seseorang di posisi yang sama secara berlama-lama memang ada banyak manfaatnya, antara lain : experience, proven, solid, tidak perlu ada proses pembelajaran, karena “pemain” birokrasi adalah mereka yang sudah berpengalaman, sepaham, memiliki komitmen kuat untuk membangun serta loyalitas yang prima.

Namun, kumpulan pemain orkestra adalah manusia yang  banyak ragam sikap dan moralitasnya. Ada yang ASLI baik2, ada yang ABS, ada yang wani piro, ada yang ASLI nasionalis, ada yang kacung asing,  ada yang KOPLAK, dsb.

Birokrasi yang ASLI baik2, tentu tidak hobi untuk menyanjung Presiden, karena baginya, menyanjung itu sama dengan menjerumuskan Presiden. Namun ketidak sediaan menyanjung, bisa diartikan lain, dan oleh birokrasi wani piro/ABS/kacung asing/KOPLAK malah dipelintir sebagai tidak memiliki loyalitas.

Akibatnya semakin membuat perasaan ketidak adilan nan menggelora (dan sangat mungkin, suasana dan kondisi seperti ini tidak disadari atau mungkin tidak dirasakan oleh Presiden)

Otoritarianisme telah berubah menjadi semacam pemujaan terhadap sosok, serta telah membuat minimal 2 hal yang saling bersebrangan : (1) kepongahan pada oknum birokrasi berjenis wani piro/ABS/kacung asing/KOPLAK  di satu sisi, dan (2) di sisi lain, adanya rasa ketidak adilan pada birokrasi yang ASLI baik2, ASLI Nasionalis, ASLI Religinya serta warga di luar birokrasi yang jumlahnya banyak.

Kepongahan sebagian birokrasi berjenis wanipiro dkk ini telah menyuburkan KKN. Namun dengan konsep loyalitas seperti itu, seolah perilaku KKN yang dilakukan oleh oknum birokrasi wani piro dkk,  justru dimanfaatkan oleh kaum wani piro dkk agar tidak nampak oleh top leader. KKN telah dan semakin terkaburkan oleh efek loyalitas.

Konsep otoriter dan loyalitas (monoloyalitas)  juga sepertinya membuat “converter suasana” dari semangat untuk mendukung pembangunan I ndonesia melalui cara amar ma’ruf nahi munkar,  diplintir oleh oknum tertentu/pembisik menjadi  sebagai pembelot dan tidak loyal serta ingin  mengganjal perjalanan ke depan (subversip dan sabotase). Hasilnya ……………. anda lebih paham.

Semoga Pemerintahan baru 2014-2019, waspada pada apa yang disuarakan oleh kaum pembisik seperti ini (yang TENTU saja) ada disekitarnya.

Kondisi ini semakin menyuburkan perasaan diperlakukan tidak adil oleh sebagian besar warga. Situasi seperti ini serupa dengan pembiakan “ranting2 kering”. Diantara rakyat yang menyuarakan kebaikan, tentulah ada yang berhati lembut, ada juga yang berhati keras.

Sekelompok birokrasi baik2 yang ASLI loyalitasnya dan rakyat umum yang semakin merasa termarginalkan, berhadapan secara nyata dengan birokrasi wani piro dkk, mulai  dari tataran pemikiran, tataran politik sampai di tataran isi khotbah di tempat2 ibadah.

Kondisi elit masyarakat yang ini mirip pemantik api.

Hanya dengan “sentilan ringan” dari dunia lain, badai api pun berkobar dimana-mana. Ritual memanggil badai telah menghasilkan apa yang sebenarnya tidak diharapkan semua pihak yang mencintai Indonesia.

Kerusakan dan kesulitan dirasakan rakyatnya, namun penjarahan (termasuk aset negara) dilakukan bagai pesta pora oleh pihak2 tertentu (unsur dalam negri maupun luar negri).

Suasana saling menyalahkan dan saling merasa benar pun ada dimana-mana.

http://www.firedogmarketeers.com/tag/reinvention/

http://www.firedogmarketeers.com/tag/reinvention/

Orde Reformasi. Re-Invention = Revolution Invention, bisa juga = Penemuan Kembali Jati Diri. Sejarah hanya mencatat dengan tinta merah bernama reformasi dengan penekanan pada KKN, anti otoritariansime dan ada nuansa pelanggaran HAM (terkait HAM ini entah agenda asli dalam negri atau agenda yang dibangun oleh pihak2 lain untuk membuat “bom waktu” .  Wallohu a’lam.).

Generasi muda sebaiknya belajar dari sejarah bangsanya, agar tidak tertipu oleh pihak luar yang memang selalu ingin mengambil manfaat jika terjadi kekisruhan. Cuci otak (sepertinya) sedang berlangsung di sebagian generasi muda oleh pihak2 tertentu, agar generasi muda tidak mempedulikan sejarah perjalanan bangsa sendiri.  Ujungnya adalah generasi LINGLUNG yang mudah disetir, mudah ditipu.

Dengan mengambil pelajaran dari sejarah, maka tidak ada rasa dendam, karena yang bekerja adalah logika berpikir dan niyat mulia menjadikan hari esok Indonesia yang lebih baik.

Keinginan untuk menjadikan Indonesia lebih baik, sebaiknya didasarkan pada sikap mulia, yakni kesadaran bahwa generasi terdahulu adalah manusia juga sebagaimana juga generasi penerus. Manusia punya kemuliaan, dan terkadang juga  punya keburukan. Tanpa hari kemarin, mustahil ada hari ini. Hari esok tak ada yang tahu, namun tugas kita adalah melakukan sesuatu untuk menjadi lebih baik.

Lakukan reinvention, ambil benang merah berbagai gagasan mulia sejak jaman perjuangan kemerdekaan, orde lama, orde baru dan orde reformasi, berpikir kreatip, innovatip, lalu lakukan perbaikan secara tersistem dan terintegrasi. Fokus perbaikan tetap didasarkan pada negri sendiri, pada rakyat sendiri – INDONESIA, bukan pada pesanan pihak lain.

Kehadiran pihak lain, diperlukan sepanjang memberikan amplifikasi pada upaya di atas. Kehadiran pihak lain yang hanya ingin memperdaya karena melihat ketersediaan pasar semata, sebaiknya diwaspadai.

Begitu apa begitu ya ?

 Ya Emangbegitu

Scroll To Top