Sekilas Info
Home | Jalan-jalan | VENEZIA

VENEZIA

Hikmah Kehidupan : Trip notice at Jum’at 4 Juli 2008 (hari ketoga). “Apapun takdir yang terjadi, terimalah dengan segera dan sikapi dengan sebaik-baiknya, karena setiap takdir itu datang bersama  kewajiban yang harus ditunaikan bagi yang menerimanya” – by swaraz. 

Pisa After Menara Pisa. Setelah hari sebelumnya menikmati suasana seputar Basilica Santo Petrus dan Merana Pisa – bagian dari europe twelve days tour  .

Pagi hari di hotel WEST FLORENCE – Firenze – Florence – Italia, menjelang jam 07.00 kami berempat sudah rapi, Edrian dan Edwin sudah membawa handbagnya masing-masing kekamar kami, begitulah yang kami lakukan dua  hari ini.

Agar  tas-tas mudah diawasi maka selalu aku minta dibawa ke kamar kami sehingga  nanti pada waktunya berangkat nggak perlu beres-beres dari kamar anak-anak lagi.

Karena kali inipun kami hanya menginap satu malam saja di hotel ini, jadi janganlah sampai ada barang yang tertinggal.

Semua Berperan itu Universal. Aku membuka pintu yang menuju balkon.  Daun pintunya terbuat dari kaca, berfungsi sekaligus sebagai jendela. Kebetulan kami mendapat kamar dilantai dua, sehingga bisa melihat keluar dengan lebih leluasa. Tampaklah  diseberang  jalan ada berderet-deret  rumah bertingkat  seperti  apartemen  tapi berukuran kecil.

vENICE 3Aku keluar menuju balkon, tampak mobil-mobil parkir didepan hotel dan mobil-mobil parkir didepan rumah-rumah bertingkat itu.  Kami mengamati kehidupan mereka, pagi itu tampak ibu-ibu muda penghuni rumah bertingkat itu bersih-bersih rumah masing-masing.  Ada yang ngelap perabotan ada juga yang sedang ngepel lantai.

Itulah yang aku lihat, ternyata dimana saja sama, tugas-tugas rumahtangga ya seperti itu-itu saja. Apakah memang seperti itu  kehidupan modern ala Eropa seperti yang pernah aku baca ? Nggak punya budaya mempunyai pembantu, kecuali keluarga yang memang sangat kaya raya. Semua anggota keluarga ambil peran dan  bertanggungjawab atas keberlangsungan kehidupan keluarga itu.

vENICE 6Alam Dipelajari.  Suasana sepi sekali, hanya sesekali suara mobil lewat, terdengar gesekan roda mobil dengan aspal menimbulkan suara yang khas, karena memang aspal jalan-jalan di Eropa juga dibuat khas.  Terlihat halus, namun jika dicermati lebih dekat, aspal itu tidak halus, malah cenderung kasar, katanya sih dimaksudkan agar mobil tidak mudah selip.

Selain kasar aspal jalan disini dibuat berpori-pori, sehingga jika musim hujan datang, air hujan dapat segera meresap kedalam aspal jalan sehingga air tidak ngecembong dijalanan. Selain aman untuk kendaraan juga jalan menjadi awet. Aspal seperti itulah yang membuat suara gesekan  antara roda mobil dan aspal menimbulkan suara yang khas. Aku amati para pengendara mobil itu sepertinya sudah terbiasa melalui jalan ini, terlihat tak ada yang mengurangi kecepatan sama sekali meskipun ada perempatan didepan hotel, tetap kencang. Mungkin juga ini daerah baru, baru dibuka sehingga penghuninya sedikit sekali.

vENICE 2Berprinsip itu Indah. Kusapukan pandanganku kesekeliling agak jauh. Tampak sederetan pegunungan di kejauhan. Dengan udara yang sejuk dipagi hari seperti ini dan melihat birunya pegunungan dikejauhan, aku ngerasa seperti sedang menginap hotel Patrajasa – Bandung, yang juga dari balkon bisa melihat pegunungan di kejauhan.

Memang sih, Florence ini terkenal dengan keindahan kotanya, seperti namanya yaitu kota bunga. Namun aku merasa kami tidak berada dipusat kota, karena disini ini sepi sekali dan semua bangunannya minimalis modern serta masih baru. Mungkin tempat menginap kami kali ini berada di daerah pengembangan yang belum sepenuhnya jadi.

Menjelang jam tujuh pagi kami turun menuju restoran hotel, semalam sudah diberitahu bahwa breakfast jam tujuh pagi. Ternyata restoran masih tutup, lalu kami keluar turun ke taman, disana sudah ada bu Endang dan adik iparnya, keduanya peserta Bayu Buana tour seperti kami. Udara lumayan sejuk, foto-foto sejenak di taman itu menunggu restoran buka. Suasana restoran sepi dan bersih. Hanya ada satu orang disitu, seorang laki-laki berpakaian rapi yang menjaga tempat itu.

Beda dengan kemarin yanng makanannya enak-enak, disini sangat tawar. Tawar. Makanannya dan juga suasananya tawar. Rotinya tawar dan keras, croisant-nya juga tawar. Ada daging smoke dan sosis daging panggang, namun setelah kami tanyakan itu daging sapi atau babi, mereka bilang itu babi. Ya sudah, nggak jadi ngambil.  Lalu dia bilang, kalau yang disebelah sana itu sosis ayam. Lumayanlah, aku makan sosis ayam dan croisant tawar.  Edwin masih nggak mau ambil sosis karena dia nggak yakin itu sosis ayam, dia pilih ambil roti keras dioles dengan mentega.

Makan pagi yang tidak sesuai dengan harapan, namun itulah pilihan yang dihadirkan Allah saat itu. (masukan bagi penyelenggara tour, sekaligus info untuk berhati-hati bagi yang tidak makan babi )

vENICE 1Serba Frezze. Bahkan teh nya pun tidak seperti teh, aku baca tulisannya teh Ceylon, rasanya langu warnanya agak kehitam-unguan, bukan merah kehitaman. Kok rasanya seperti minum seduhan rumput.  Memang ternyata setelah dibandingkan dengan hotel sebelumnya dan hotel-hotel selanjutnya, disinilah makan pagi yang paling tidak sesuai harapan.

Namun dihotel ini aku lihat kamar mandinya yang terbaik dari semua hotel yang kami singgahi selama di Eropa, bersih, baru dan dilapis marmer Itali seluruhnya. Masuk akal sih, selama perjalanan kemarin dari Roma menuju Florence sepanjang jalan kami temui pabrik-pabrik pemotongan marbel [marmer].

Dan sepanjang perjalanan pula kami lihat gunung-gunung yang menyimpan cadangan marmer sedang ditambang. Pantas kamar mandinya dilapisi marmer sebanyak itu, wong sini daerah penghasil marmer nomer satu didunia. Sampai kurasakan njomplang, kamar mandinya sangat bagus sedangkan kamar tidurnya malah terlalu sederhana.

vENICE 7Ladang Gandum & Bunga Matahari. Jam delapan pagi kami sudah diloby hotel, bus kami  sudah parkir disitu. Tampak sopirnya sedang menata koper-koper kedalam bagasi bus dibantu oleh portir hotel. Tour leader menjelaskan bahwa kami akan menuju Venice  atau Venezia.  Jarak dari Florence  menuju Venice sekitar 300 – 400 km, kira-kira ditempuh dalam 3 atau 4 jam. Mulailah perjalanan hari ini, udara masih panas, pemandangan dikiri kanan jalan masih didominasi oleh gunung-gunung marmer yang sedang ditambang.

Jika tidak gunung marmer ya sawah, sawahnya pun masih tetap didominasi warna kuning dan coklat, yang warna kuning adalah tanaman bunga matahari sedang yang coklat muda tanaman gandum siap panen. Memang bulan Juli-Agustus itu waktunya panen gandum, makanya warnanya coklat muda seperti seragam pramuka, mungkin jika belum waktunya panen warnanya hijau kali ya. Entahlah.

Baru jam sebelas lebih duapuluh menit ketika kami memasuki wilayah Venice, sementara janji dengan pemilik kapal yang akan mengantar kami ke Venice Island jam satu siang. Untuk mengisi waktu, bus dibelokkan menuju semacam FO [factory outlet] di Venice Mestre.

Venice Mestre. Daerah ini berkembang setelah kota Venice lama, tenggelam, penduduknya yang tidak nyaman tinggal dirumah yang dikepung air pada pindah ke daratan dan membangun hunian baru. Disini banyak hotel-hotel baru dan juga pertokoan dengan harga yang lebih murah daripada di Venice lama.

Kami diturunkan didepan toko sepatu yang lumayan besar, MAX.  Aku ikutan lihat-lihat, ada satu yang menarik hatiku, sepatu kulit berbentuk fantofel berwarna coklat. Kucoba yang ukuran 39, nyaman, dingin dan enak, maklum made in Italy, sayangnya  agak sedikit kebesaran. Mungkin 39 Indonesia nggak sama kali ya dengan ukuran 39 nya bule.

Aku nyari yang satu nomer dibawahnya nggak ada yang warna coklat, adanya warna hitam, ya sudah aku beli yang ini saja, mungkin jika dipakai dengan  kaos kaki menjadi pas. Harganya € 99, karena kami datang rombongan maka dapat diskon langsung menjadi € 85 saja. Lumayan lah.

Setelah selesai transaksi kami keluar berdiri didepan toko. Kulihat diseberang toko ada penjual kebab dan bermacam-macam roti, Panicio nama tokonya, tidak begitu besar namun terkesan bermutu dan penataannya bagus, sepertinya enak.

Kulihat Edrian dan bapaknya sedang beli disitu, langsung dilayani karena pembelinya hanya mereka berdua.

Sekembalinya dari toko, Edwin juga kepingin, maka Edwin diantar bapaknya ketoko itu lagi, namun keadaannya sudah tidak sama lagi, toko itu sudah penuh dengan orang yang mau beli, ngantri dah.

Ketika sedang ngantri, bus kami sudah datang, akhirnya mereka nggak jadi beli, keluar antrian dan ikut lari menuju bus. Aduuuhhh . . . kaciaaaan deh.

vENICE 8Entereing Venice. Bus kembali melaju menyusuri bibir pantai.  Kemudian melewati jalan yang seperti jembatan yang panjang sekali, karena dikiri dan kanannya berupa air. Dikejauhan sesekali sudah tampak kota Venesia yang amat terkenal itu, meskipun nggak begitu jelas.

Tepat jam satu siang kami sudah berada dalam kapal yang dicarter khusus, hanya rombongan kami saja yang naik. Aku memilih duduk diujung depan kapal, berharap dapat melihat keluar dengan leluasa karena tepat diujung depan kapal itu ada sebuah jendela kaca yang sedang dalam posisi terbuka.

Kupikir jika ngambil gambar dengan langsung tanpa terhalang kaca kan hasilnya lebih bagus, sementara jendela sekeliling kapal itu sepertinya mati, tidak bisa dibuka tutup. Aku sesekali berdiri untuk melihat dengan lebih jelas Venesia dari jauh. Perjalanan dengan kapal ini memerlukan waktu sekitar 20 menit.

Ketika kapal mulai mendekat, tampaklah pemandangan luar biasa indah yang belum pernah aku temukan sebelumnya dalam setiap perjalanan wisata yang pernah aku lalui. Pemandangan luar biasa. Apakah itu ? Disana, tampaklah bangunan-bangunan tua yang besar dan anggun berderet-deret seperti terapung memagari laut.

Ada yang sangat menonjol yang berkubah besar seperti masjid, itulah masjid yang dialih fungsikan menjadi gereja. Dahulu saat kerajaan Turki menguasai Venezia, mereka membangun masjid-masjid. Ketika perang salib terjadi, Turki kalah dan Venice kembali dikuasai orang Eropa, masjid-masjid tersebut dialih fungsikan menjadi gereja, tanpa merubah bentuk bangunannya.

vENICE 4Demikian penjelasan tour leader kami, meskipun cerita itu tidak diakui oleh bangsa Eropa sendiri.

Sehingga wajar jika sampai sekarang masih ada beberapa bangunan dengan arsitektur timur tengah. Ada juga gedung-gedung besar dengan pilar-pilarnya yang banyak dan  tinggi berderet-deret didepan gedung, tampaklah seperti gedung balaikota atau senat dijaman kerajaan Romawi. Semua pemandangan indah itu membuatku terpana. Luarbiasa. Itulah kata yang tepat menurutku.

Pemandangan ini membiusku, aku seperti tak percaya bahwa aku sekarang ini sedang menuju Venezia, kota yang tak masuk dalam agenda impianku untuk aku datangi.  Kota yang terlalu mustahil bakal aku datangi. Kota yang hanya aku kenal dalam film Casanova dan tayangan Jet Set di televisi. Kota yang hanya ada dalam cerita, bagiku.

vENICE 9Dream or True. Terbius oleh sensasi ketidak percayaan mataku sendiri, aku sampai lupa bahwa bersama kami ada 30 orang lagi, aku  enggan untuk duduk. Aku tetap berdiri menatap kedepan, seakan  tak ingin melewatkan moment ini sia-sia. Meskipun sulit, karena seringkali air laut yang asin meloncat masuk dan membasahi tustelku dan juga mukaku, aku tetap berusaha mengambil gambar sebanyak-banyaknya.

Ya Tuhan, aku tetap belum sepenuhnya percaya bahwa aku sedang menuju kearahnya, kearah kota legenda VENEzIA. Ini kota Venezia yang asli.

Saat menuju  ke kota terapung itu yang sebenarnya lebih tepat jika disebut kota tenggelam, ada beberapa kapal besar yang melintas berisi turis. Tentu saja turis, siapa lagi ? Ada kapal besar yang berwarna merah dengan patung prajurit Yunani dengan helm perang mirip miliknya Achiles dengan rambut kuda yang menjuntai diatasnya.

Setelah aku cermati ternyata namanya bukan Achiles, tapi  bernama Icarus. Kok Icarus pakai helm perang ? Lagian ngapain memakai nama Icarus, bukankah Icarus orang yang berusaha untuk bisa terbang, bukan bisa berenang.  Dalam hati aku bertanya, lho kok Icarus dijadikan nama kapal laut, mestinya kan kapal terbang.

vENICE 10Entahlah. Selain kapal yang besar, ada banyak kapal-kapal sebesar yang kami tumpangi yang sedang bersandar didermaga berjajar-jajar. Perahu kamipun mesti antri menunggu dermaga kosong untuk mendarat. Menunggu beberapa saat ditingkah suara keras nakoda yang berantem mulut dengan nahkoda kapal lain yang mau enaknya sendiri main serobot, akhirnya dapat tempat juga didermaga itu.

Begitu keluar dari kapal, pandanganku langsung tertuju pada bangunan ditepi pantai tepat didepan kapal berlabuh. Bangunan berwarna hijau terang dengan bunga warna-warni semarak menghiasai setiap jendelanya. Ternyata itu restoran. Begitu manis, begitu cantik, seperti dalam cerita saja.

Bangunan itu tidak sendirian, berjajar memenuhi seluruh pinggir pantai itu. Cuaca begitu terik, panas menyengat kulit, suasana sangat ramai penuh wisatawan dengan baju khas wisatawan musim panas ala orang bule. Tour leader mengajak kami bersama-sama masuk kedalam lorong/gang selebar satu setengah meter.

vENICE 5Masuk kira-kira seratus meter kedalam, kami berhenti didepan bangunan sederhana namun tinggi sekali dengan halaman agak luas, ditengah halaman itu ada semacam tempat air mancur/fountain kecil, diseberangnya ada pintu yang tertutup, hanya pintu tak ada jendela disamping-sampingnya, yang ada hanya dua pintu kecil dikiri dan kanannya.

Kata Alex, itu adalah bangunan gereja yang tertua dikota ini. Kemudian  tour leader memberi arahan awal tentang tour hari ini, yaitu menyusuri lorong-lorong kota venesia, kemudian makan siang. Setelah itu baru ke tempat pembuatan gelas, namanya Murano, dan  kemudian naik gondola dan terakhir  menentukan meeting point dimana kami harus berkumpul tepat jam 4.30 untuk kembali kekapal, yaitu di bawah gedung yang mempunyai menara tinggi, yang tertinggi di seluruh area ini yang dapat dilihat dari mana-mana dan dari situlah setiap kali kami mendengar lonceng berbunyi nyaring sekali stiap jam.

vENICE 12Lorong Lorong Venesia. Lorong-lorong kami jelajahi satu persatu, namun ya agak tergesa-gesa karena takut ketinggalan dari rombongan, kayaknya kalau kita ketinggalan akan sulit menemukan jalan keluar, karena kita bisa saja tersesat dalam lorong yang amat banyak ini.

Lorong-lorong sempit selebar antara satu sampai dua meteran dan kali-kali [sungai kecil] yang menghubungkan antar bangunan disini begitu banyaknya dan berliku-liku. Bercabang-cabang banyak sekali. Kepunthal-punthal aku mengikuti rombongan,  selalu tertinggal karena aku selalu terkagum-kagum pada setiap bangunan yang aku lewati, dan berusaha merekam keindahannya pada ingatan.

Semuanya memang sudah berusia tua, kadang plester [lepa] nya sudah pada terkelupas, sehingga tampak susunan bata merahnya atau tampak seperti dithotholi manuk [untuk ngasin burung] selama bertahun-tahun sehingga tampak keropos, namun semuanya tampak sangat indah. Rasanya aku nggak puas jika melihatnya, menikmati keindahannya dalam keadaan setengah berlari begitu. Apalagi jalannya kan sempit, namun pengunjungnya sangat banyak, padat orang berlalu-lalang.

Gedung-gedungnya meskipun tua tetap tampak  indah. Mungkin juga indah karena didalam imajinasiku sendiri kota ini indah, jadi setiap yang kupandang selalu yang tampak hanya indahnya saja. Itulah pikiran.

Pikirkan yang  indah maka yang terlihat semua indah. Bahkan gedung tua berbau apek inipun tampak indah bagiku.

Pikirkan hal buruk-buruk, maka yang terlihat hanya yang buruk-buruk saja. Dan Venesia ini indah bagiku.

vENICE 11Sangat indah. Coba bisa menginap semalam saja disini, bakalan bisa lebih santai, bisa lebih jenak  menikmati seluruh keindahan kotanya. Sayangnya hanya orang kaya saja yang mampu menginap disini, karena harga hotelnya super mahal.

Tertata untuk Pandngan Indah. Yang aku kagumi adalah disetiap jendela diatas jalan yang kami lalui, banyak yang  ditanami bunga,  yang dibulan Juli ini semua bunga itu sedang bermekaran, jadi indah sekali tampaknya dan mengundang perasan romantis. Padahal gedung-gedung itu bertingkat banyak, sampai tingkat paling ataspun didepan jendelanya tetap ditanami bunga. Dan jendela-jendela itu berhadap-hadapan antara gedung satu dengan gedung diseberangnya. Itulah sisi romantisnya, kayaknya jika ada cerita seorang gadis dan seorang pengagumnya berkirim surat atau mengirim bunga lewat jendela dengan bantuan cuthik  [ranting pohon] pun bisa terjadi.  Indah kan ? Dekat, bisa saling bicara dan saling pandang namun tidak bisa mendekat lebih dekat lagi karena terpisah jarak dua meter diketinggian yang tak mungkin untuk melompatinya, karena kalau jatuh ya . . . . . terbayang deh akan jadi apa.

vENICE 13Disinilah dulu Casanova menggaet putri-putri bangsawan dengan rayuannya, setelah dia jadi buron/pelarian dari Roma.  Disinilah pula dahulu para bangsawan kota ini lalu lalang dengan gondolanya [perahu khas Venesia] memamerkan siapa dirinya.

Disinilah banyak film-film romantis dibuat. Sesekali kami berhenti diatas jembatan melengkung yang menghubungkan antara satu blok dengan blok diseberangnya namun terpisah oleh air.

Yang sekarang ini terlihat sebagai sebuah sungai, dulunya adalah jalan, akibat mecairnya es di kutub sehingga permukaan air laut naik, maka yang dulunya jalan terendam air, jadilah sungai. Itulah Venesia, kota air. Sarana transportasi bukan lagi kereta kuda ataupun mobil, namun berubah menjadi perahu. Dan perahu khas Venezia diberi nama gondola.

Meskipun permukaan air laut naik itu merupakan musibah pada jamannya, sekarang ini bukan lagi musibah namanya, tetapi telah berubah menjadi berkah. Tinggal buka toko, buka hotel, nyediain perahu, dhuwit mara dhewe, uang datang sendiri. Berkah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kapan ya banjir di Jakarta dapat diubah menjadi berkah ?!

vENICE 15Toko2 Souvenir & Soal Makan. Dikiri kanan gang sempit yang berkelok-kelok itu toko-toko souvenir berjajar-jajar sangat indah. Lampunya terang benderang, yang dipajang juga indah-indah, tampak topeng-topeng khas untuk pesta topeng dipajang dengan indahnya. Perhiasan-perhiasan berpendar-pendar dalam toko khusus perhiasan. Juga yang menjual perangkat minum [gelas set] yang terbuat dari kaca berwarna-warni, nama khasnya disini adalah MURANO glass, yang sekarang ini sudah ada tokonya di Jakarta.

Selain menjual souvenir juga ada yang menjual barang-barang kebutuhan fotografi Chi Foei [tustel, kamera, film, memori card dll], dan makanan alias restorante. Secara umum yang terekam dalam otakku dibagian yang telah aku lalui ini adalah sebuah pemukiman pada masa lalu berupa bangunan gedung-gedung besar yang padat, jarak antara satu gedung dengan gedung sebelahnya hanyalah antara satu sampai dua setengah meter dan jarak antara gedung satu dengan gedung didepannya lebih lebar, bisa dua sampai tiga kalinya.

vENICE 14Gang-gang itu ada yang diurug, ditinggikan dan ditutup paving-paving berukuran besar, sehingga bisa dilalui dengan jalan kaki, ada juga yang dibiarkan berupa sungai.

Setelah lelah muter-muter lewat lorong-lorong yang bisa dilalui dengan jalan kaki, capek deh rasanya dan lapar pula. Ini sudah jauh melewati jam makan siang, apalagi tadi pagi  sarapannya kurang sesuai, lengkap sudah kelaparannya. Alex membawa kami ke Mc Donald.

Namun setelah sampai sana aku lihat antrian yang begitu panjang, rasanya nggak selera. Kulihat dia pergi dengan beberapa keluarga, antara lain keluarga juragan rokok dari malang itu, kami mengikutinya. Yang kurang cocok dengan masakan selera bule, sementara kami rindu masakan negri sendiri.

Ternyata mereka mencari rumah makan china, kami ikut. Menunya nasi, oseng kol [gobis], telur dadar campur tomat, ayam goreng tepung dipotong kecil-kecil dan air putih. Satu orang dikenai € 14. Jadi kami berempat € 52. Kalau dikomparasi dengan di negri sendiri, maka harga makanan seperti ini ya Gila !!

Supaya bisa santai menikmati makanan, aku bayangkan saja ini memang sedang piknik di kota tersohor, anggap seperti lagi pergi makan di hotel bagus di Jimbaran- Bali. Beres. Lupa deh deh dengan harganya yang selangit.

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu.

Apapun takdir yang terjadi, terimalah dengan segera dan sikapi dengan sebaik-baiknya, karena setiap takdir itu datang bersama  kewajiban yang harus ditunaikan bagi yang menerimanya”. 

 

Scroll To Top