Sekilas Info
Home | Inspirasi | Gaya Hidup | WELCOME OTT

WELCOME OTT

Mengucapkan welcome OTT bagi praktisi dan regulator telco di negri Anemia,  mungkin sama sulitnya dengan perasaan para pelaku korupsi di negri Indonesia yang terkena OTT ( Operasi Tangkap Tangan) oleh KPK, ………………

3565334-cartoon-vampire-face-on-a-black-background-halloween-illustrationOver The Top dalam industri Telco sering disingkat OTT. Secara ilustrasi, OTT itu adalah “sesuatu” yang berada di-”ubun2″ operator telco dan bersifat “parasit” : mengambil darah, mengambil oxygen, dan bahkan mampu mengendalikan otak.  Jadi mirip senyawa antara : Drakula+Wewe Gombel+Suster Ngesot.

OTT juga mirip atau sejenis pasukan Jin.   Besar kemungkinan, fase yang ada sekarang ini adalah metamorphosis dari bentuk sebelumnya, yakni  drone . Drone adalah sejenis pesawat tak berawak yang memiliki kemampuan memetakan apa saja yang dilewatinya atau yang mengidentifikasi siapa saja yang (mencoba) meng-hit-nya. Dalam telco, search engine, facebook, foursquare, finding location (map), GPS dan berbagai jenis lainnya, memiliki manfaat yang dapat diserupakan dengan drone.

DRONEBedanya, drone untuk militery war itu ditakuti karena mampu menembak dan melempar boom layaknya pesawat berawak.   Sementara, drone di telco memberikan manfaat yang menjawab kebutuhan si pemakai ( masyarakat luas, pasar, user, dsb) dan bagi kebanyakan praktisi dan regulator telco di Anemia, “drone” ini dikenali sebagai sesuatu yang memiliki value added. Wajar saja  kehadirannya disambut riang gembira.  Dalam perkembangannya, dapat diketegorikan sebagai yang memliiki fungsi “drone” adalah smartphone,

Entah karena sudah terbentur tembok atau karena apa, kini ada semacam kesadaran mendalam pada sebagian kalangan bahwa OTT bukan sekedar business partner, namun juga potential killer bagi operator telco GSM atau sejenis itu.

Terlepas dari OTT,  secara  ”kebetulan” perusahaan2 operator telco seluler GSM di negri Anemia dan berbagai negara di dunia nyata seolah sedang mengalami “resesi” atau terjadi perlambatan, de-akselerasi. Jika diibaratkan sebagai “pesawat yang besar”, maka oleh sebagian kalangan di negri Anemia , “pesawat” itu terlihatnya seolah bagai sedang bersiap2 menuju fase “landing”.   Sementara kalangan lainnya tidak sepenuhnya sependapat dengan pandangan itu.

Mengapa ? Ada fenomena nikmatnya Ebidta, ada keperluan mencari manusia berkarakter bandung bondowoso,

Ya Emangbegitu.

lunch in airplaneNikmatnya EBITDA Telco ?.  Di jaman barusan (tahun 2000-2012) di negri Anemia,  menjadi pengelola operator telco GSM merupakan “kenikmatan” luar biasa. jarang menemukan bisnis dengan earning seperti itu. Ebitda perusahaan di industri ini, sangat menakjubkan.  Makmur !

Ibarat perjalanan pesawat,  maka phase ini (kemakmuran) berhasil dicapai, sesudah melewati semua proses take-off dengan segala resiko dan effortnya. Ada kelegaan bathin, ada kepuasan jiwa, ada kebahagiaan ruh.

Pada phase kemakmuran ini,  saatnya hidangan disajikan, saatnya boleh nge-game, saatnya dipersilakan ke toliet, dan berbagai aktivitas yang lazim dilakukan untuk kenyamanan, kebugaran dan keafiatan ragawi.

Dari Jaman Sebelum Majapahit.  Wajar jika “pemandangan dan situasi” kemakmuran itu telah membuat banyak orang yang “menonton”nya, pengin duduk di cockpit pilot atau sekedar menjadi air crew atau bahkan sedia menciptakan peran baru sebagai pembawa tas sang pilot.  Setelah duduk atau “mendapat peran”, tentunya perlu menampilkan diri super sibuk atau memang benar2 sibuk,  serta berpikir serius “…….  aku entuk piro lan entuk opo?”

Perilaku seperti ini wajar2 saja ! Mengapa ? karena saat jadi penonton,  yang dilihat hanya dari sisi “makmurnya” saja, hanya melihat menu lunch yang begitu bikin air liurnya mengalir deras sampai muncrat. Boleh jadi dalam benaknya berkata “This is my turn, ini giliran gue !”.  Persetan dengan cerita tentang para “arsitek dan pasukan khusus” yang secara bandung-bondowoso telah bersusah payah membangun pesawat  ”telco seluler Anemia” ( tahun 1995-2000 ) dan menerbangkannya dengan selamat ( 1998 – 2010), yang telah membangun pondasi yang kokoh dan membangun kemakmuran bersama.  Jika perlu dinisbikan saja atau katakan (dianggap) “ente sudah obsolete”.

majapahitTeknologi dan jaman selalu berubah,  itu berlangsung sejak jaman sebelum Majapahit sampai jaman sesudah Bill Gate.  Namun di dalam pencapaian kemakmuran selalu ada hal yang sama : di setiap jaman, di setiap jenis perusahaan serta di setiap aplikasi teknologi.  Kalau disummary nuansa semangat dan jiwa untuk meraih kemakmuran, kira2 bunyinya : holobis kuntul baris, rawe-rawe rantas, malang-malang putung, jer basuki mawa bea, sepi ing pamrih rame ing gawe, gemi nastiti ati-ati.

Begitupun setiap fase penurunan tingkat kemakmuran, selalu ada kesamaan di jaman, di perusahaan, di penerapan teknologi, di negri apapun, termasuk di negri Anemia. Imperium perancis kuno hancur bukan oleh pihak luar, begitu pun berbagai imperium besar, hancur oleh dirinya sendiri. Kaum borjo wani piro bisa ditemukan di puing2 negri atau imperium yang rontok atau nyaris tontok.

Jadi, maju berkembang makmur atau retak rontok berantakan itu pelakunya lebih ada di dalam. Pihak luar mengkondisikan dan memanfaatkannya. Jika yang didalam kaum borjo wani piro, maka mudahlah pihak luar melakukan apa saja sesuai rencana strategisnya.  Disini akan nampak cinta sejati dan nafsu, cinta sejati membangun negri Anemia atau nafsu serakah mengeruk fulus alias hepeng dan persetan dengan negri Anemia.

Saat ini, mungkin belum terlambat, kecuali jika memang niyat para penentu kebijakan di negri Anemia ingin membiarkannya secara “as it is”.

Ya Emangbegitu.

Sebagian dari Tim Kecil yang dikomandoi oleh Garuda Sugardo. Saat itu yang nge-tren adalah digitalisasi fixphone dan telex serta mobile analog ( NMT dan AMPS). GSM bukan sesuatu yang menarik dan sama sekali tidak populer.

Pilot Project & Tim Kecil. Dulu (di negri Anemia) pernah ada tim kecil dibawah komandan sebagaimana “mahapatih Gajahmada” dari negri Majapahit – kalau di negri Indonesia, dibawah komando Garuda Sugardo. Tim kecil bersemangat bandung bondowoso dari kaum “militan” yang cinta negri Anemia. Benchmark hanyalah menengok berbagai kemajuan dan ilmu, bermintra untuk memperkuat rencana, tujuannya untuk kemajuan negri tercinta – Anemia.

Tim kecil ini, dengan segala cerita suka dukanya, berhasil mewujudkan percepatan digitalisasi plus perluasan konektivitas  secara voice dan text antar penduduk di seluruh negri Anemia, melebihi kecepatan otomatisasi dan digitalisasi telepon fix dan telex serta mampu membuktikan ke dunia sebagai bagian penting dalam pembentukan super benua GSM.

Sekarang pun selalu Tuhan sediakan manusia yang - insya Allah –  pas untuk negri Anemia,  dalam mempercepat konektivitas dan memperbesar volume komunikasi data seluruh penduduk negri dan berbagai kebutuhan data sampai ke pelosok negri dan membuktikan pada dunia sebagai bagian penting pembentukan super galaxy Something.   Jika sudi mencarinya, tentulah ketemu juga.

Jika dulu tim kecil itu kebanyakan berasal dari mereka “yang tersingkirkan”, maka boleh jadi di saat sekarang, manusia2 itu pun dalam kondisi serupa itu. Ciri2nya :    hobinya kerja, meski “hanya” hasil kreasi berskala mini, namun ber-visi maksi, ber-missi menghadirkan manfaat untuk  kemakmuran bersama dan kejayaan negri, ber-semangat sepi ing pamrih rame ing gawe, dengan karakter rawe-rawe rantas malang-malang putung dalam ber-holobis kuntul baris, dan kesadaran untuk gemi nastiti ati-ati serta keikhlasan dalam berjuang (jer basuki mawa bea).

Ya Emangbegitu.

To Day Situation. Pemandangan ini dilihat dari sisi operator telco GSM. Satu persatu operator telco seluler di negri Anemia, rontok.  Berbagai fenomena atau bahkan fakta di manca negara operator telco kolaps, nyaris tak terdengar, dibeli oleh kumpeni non-operator telco atau sedang dilirik perusahaan pabrik aplikasi, beberapa pabrik2 end user terminal meleburkan diri jadi satu merk,  pabrik smartphone me-lay-off ribuan pekerja, dsb. Kompetisi bisa jadi sinergy, sinergy bisa jadi kompetisi.  Market sudah jenuh, tinggal kucing dan anjing yang belum mengguanakan ponsel.

OTT seolah sudah membayangi bersama burung gagak. Dan sebagainya.  Oxygen dalam darah sudah berkurang, bahkan volume darah pun semakin berkurang.  Seolah phase kemarin (kemakmuran) itu sepertinya sudah berakhir.  Jaman sudah berganti.  Phase ini ibarat pesawat sedang menuruni rute penerbangannya. Namun benarkah kondisinya seperti itu?  atau karena ketidaktahuan para crew ? atau karena keanehan budaya yang berkembangan ? wallahu a’lam.

Ya Emangbegitu

transformers-bb-w1Transformer. Pendapat atau gagasan perlunya transformer itu ada benarnya, dan ini bisa menjadi gagasan yang luar biasa. Namun di Anemia, kata transformer ini hanya indah ditataran buku2 dan pidato2.  Apakah karena film telah mempengaruhi cara berpikirnya  ? Dalam film the transformer, tokohnya memiliki kemampuan untuk merubah bentuk dirinya dari bentuk A ke bentuk B atau bentuk C, dsb. Biasanya aksi transformer itu distimulasi oleh adanya desakan/tekanan/ketakutan/serupa itu saat masih dalam bentuk aslinya. Bentuk yang menjadi “tujuan” adalah bentuk yang sedemikian rupa, bentuk yang memiliki fungsi lebih dari sebelumnya, yang memiliki ukuran lebih besar, yang memiliki kompleksitas lebih ketimbang sebelumnya,  minimal yang dipandang pas menurut pemikiran “prosesor”-nya terhadap apa yang dilihatnya, yang mendesak/menekan/mengancam/membuat ketakutan, dsb.

Sayangnya dalam film itu seringkali menggambarkan kecanggihan fungsi kompleks  secara linear mempengaruhi  dimensi, kompleksitas, size, dsb.  Semakin canggih, semakin more dalam dimensi/size-nya.  Logika transforer seperti ini bertentangan dengan pepatah bahwa “orang pinter itu adalah orang yang mampu menyederhanakan yang rumit, memudahkan yang sulit, membuat simple yang kompleks, dsb”.

Apakah karena kurang minum jamu xxxxx ? sehingga tidak pinter2. Beruntung, dalam film itu, kapabilitas lingkungan yang dihadapi sang tokoh, selalu tidak bisa membaca rencana perubahan yang akan dilakukan sang tokoh dan juga tidak punya rencana perubahan dirinya juga.

Ya Emangbegitu

megalomanMegaloman. Seandainya musuh dari sang tokoh transformer itu punya kemampuan intelegensi yang lebih hebat, punya visi yang lebih hebat, punya strategy yang lebih hebat, maka bentuk besar dengan fungsi yang canggih dan kompleks ( paling tidak menurut sang tokoh itu ),  akan menjadi sesuatu yang tidak lebih dipandang sebagai robot raksaksa yang sok canggih namun dungu dan lamban ( dumb giant ).

Transformer sebaiknya tidak mendasarkan pada adanya  desakan/tekanan/ketakutan/serupa itu,  dan jangan memandang lingkungan sebagai mahluk2 yang tidak paham atau memandang dirinya lebih pandai dan lebih cepat. Karena ini akan melenakan dan merugikan dirinya semata. Atau memang bermaksud membuat sesuatu yang mirip Megaloman ?.

originalSekali lagi, itu adalah sebagian pemandangan jika melihat dari sisi operator telco GSM di negri Anemia. Tentulah berbeda jika kita melihatnya dari sisi non-operator telco GSM, dari sisi OTT misalnya.  Bagi OTT, bisnis justru semakin terbuka, jalur oxygen sudah tersedia, darah sudah cukup banyak, komunitas sudah terbentuk, peta kekuatan sudah tergambar, perilaku “penduduk dunia” sudah teridentifikasi ( pergerakan, hobi, sampai retina dan sidik jari pun sudah tercapture ).

Singkat kata, data forensik dimiliki, data behaviour dimiliki, data kepemilikan account pun dimiliki, dan berbagai data lainnya sudah dalam genggamannya.  Mereka sudah benar-2 mewujudkan bahwa semboyan  ”dunia dalam genggaman …. ” ……… mereka.  Business model pun sudah dikuasai. Seolah impian super galaxy itu hanya tinggal tekan tombol saja.

Ya Emangbegitu

depositphotos_20254103-cartoon-airplane-flyingKurva Kedua. Ada yang memandang bahwa secara kurva “penerbangan” ya Emangbegitu adanya.  Bagi kaum yang optimis yang  meyakini adanya second curve, maka hal itu harus ditemukan lalu digigit dengan gigi geraham.  Antara lain membangun roket pendorong yang dipandang mampu meningkatkan akselerasi sekaligus memperbaiki vektor ke arah kulminasi, paling tidak agar tidak terjadi deklinasi. Dan berbagai hal inovatip harus dilakukan untuk menjabarkan keyakinan optimistik ini ( we belive in second curve ).

Perlu berusaha keras untuk menyalakan roket pendorong baru, agar tercipta second curve. Masalahnya apakah itu roket diletakan pada  vektor yang sesuai atau tidak?  kita tidak begitu tahu benar.  Mudah2an jenis roket, letak dan arah roket itu sudah tepat, dan …… bersumber dari hasil menemu kenali ( exploration, invention) atas fenomena industri dan tren teknologi serta visi yang tepat, bukan khayalan narsis atau kata2 dari konsultan yang belum tentu paham industri dan pasar di negri Anemia.

Ya Emangbegitu

cartoon airplane landing cartoon-airplane-landing-the-airsafecom-news--russian-airliner-makes-emergency-landing-at-lfspafhv Rutenya Emangbegitu. Ada yang memandang bahwa memang rutenya demikian, tahapnya sudah sampai di ujung perjalanan. Kaum ini nampak pesimis, namun memiliki dasar yang kuat dari fakta pre-historis (pager, telex, AMPS,dsb), fakta historis (GSM yg dulunya relatif tidak dianggap, mampu men-tsunami icon prehistoris yg berbentuk pulau2 atol itu dan menyulapnya menjadi super benua GSM), serta tren ke jaman postmo  yang tanda2nya sudah sama2 dirasakan (Line, Kakao, Skype, FB, Tweet, Femto, UC,  dsb).

Jaman postmo memanfaatkan langit dan gugusan-2 (cloud) secara sedemikian rupa sehingga menjadi suatu teritori  -  menjadi semacam super galaxy.   Kaum “pesimis” ini lebih menyarankan agar negri yang tidak memiliki basis industri/pabrik telco yang kuat dan militan ( misal negri Anemia ) untuk waspada dan bersiap2 agar “pesawat yang  phasenya sudah mendekati “rute-tujuannya”,  dapat landing dengan mulus dan tidak ada korban, dan …. semua suka.

Sebagian crew bisa landed dengan bekal yang sepadan dengan kemakmuran yang telah dihasilkan, sebagian crew menuju pesawat baru yang boleh jadi masih bersifat prototype namun menjadi cikal bakal the super-space enterprise, yang tidak lagi sekedar menjadi otoritas super benua, namun juga mampu menjadi bagian dari otoritas super galaxy.

Crew yang akan bertugas di pesawat prototype ini harus militan sebagaimana crew jaman pembabat alas super benua GSM. Mentalitasnya harus jerbasuki mawa bea, rawe-rawe rantas, malang-malang putung, holobis kuntul baris, sepi ing pamrih rame ing gawe.  Masalahnya ? apakah roadmap pembinaan crew di negri Anemia sudah mengantisipasi ini atau bahkan tidak tahu akan hal ini. Masalah berikutnya ? apakah ada yang mau ?  mau tapi dengan embel2nya hepeng gedhe ya sami mawon, ini mirip golongan “wani piro”,  dan sepertinya bukan typikal yang dibutuhkan untuk bagian dari mimpi baru pembentukan super galaxy.

Ya Emangbegitu.

downloadOver Loaded . Ada yang memandang bahwa perlambatan kecepatan “pesawat” lebih kepada muatannya yang terlalu banyak. Muatan yang berasal dari hal-hal yang wajar dan rasional,  atau bisa juga yang berasal dari hal-hal yang tidak rasional dan mungkin juga tidak wajar.  Mereka yang memandang over loaded, juga sedang memikirkan untuk mengurangi beban agar pesawat bisa sustain atau terbang lebih tinggi lagi.

Masalahnya ? jika sumber pembebanan itu berasal dari hal-hal yang tidak wajar dan tidak rasional, maka mustahil pesawat akan naik lagi. Gambar disamping (pesawat dengan penumpang yang tak lazim) adalah ilustrasi perilaku pembenan pesawat yang tidak wajar dan tidak rasional.  Pengelola bandara sampai pilot & crew dalam keadaan bingung. Kalau ditegur kok itu anaknya kepala suku, atau kepala preman, atau ketua lembaga berlabel religius, dsb, tapi kalau nggak ditegur, maka semakin mari semakin banyak dan semakin aneh serta semakin nyungsep. Belum lagi lagi kalau pilot dan crew yang bersangkutan juga ber-type sama.  Mustahil menegur.  Apalagi jika dalam beraktivitas lebih mementingkan gaya naris dan banci tampil, semakin menggelikan saja.

Ya Emangbegitu.

Cartoon-airplane-collection-Vector-20719 bToo Much Air Plane. Sebagaimana halnya dengan di Indonesia, di negri Anemia, jumlah operator telco seluler juga banyak.  Karenanya, ada yang menganalisis bahwa penurunan kinerja operator di Anemia, juga diakibatkan  sudah terlalu banyak pemain. Ibarat langit, jumlah pesawat sudah begitu banyaknya.  Maka selain menyulitkan regulator dalam menata alokasi rute penerbangan ( blok frekuensi ), juga membuka peluang ketidak adilan penetapan dan penempatan rute penerbangan.

Secara operasional di pasar riil, maka taktik atau tindakan banting harga bukan cara yang aneh, bisnis berubah menjadi kuat-kuatan nafas. Adanya fakta bahwa beberapa pemain mulai ada yang kolaps atau bahkan ada yang sudah lempar handuk, telah menguatkan pendapat ini – too much player.

Nah…. sekarang bagaimana dengan regulasi OTT ?

Adakah yang melihat bahwa OTT sebagai suatu yang membangkitkan adrenalin ? Atau memang OTT adalah cikal bakal alias prototype dari “rezim pengganti” dari sistem incumbent  di jagad industri telco ? versi perbaikan dan percepatan ala pembentukan super benua GSM yang telah membuat luluh lantak berbagai sistem sebelumnya (saa itu masuk kategori incumbent dan penuh revenue) seperti : Publicphone (telepon Umum), Telex, Pager, Mobilephone AMPS/NMT,  Long Distance (SLJJ), dsb ?

Jer basuki mawa bea, tak ada kemuliaan tanpa berikhtiyar, tidak ada makan siang yang gratis, tidak ada bangunan pencakar langit tanpa pondasi yang kuat.   Sepi ing pamrih, rame ing gawe, jangan wani piro tapi banyakin amal/aksi nyata yang mulia.  Manusia2 mulia,  tahu dan bisa memuliakan negri Anemia.  Pinter itu perlu, namun mulia pekertinya itu penting. Cepet itu bukan kebat kliwat. Loyal itu pada Kebaikan dan Keluhuran. Makarya iku kanggone mulyaning negoro. Ngabekti iku eling lan nurut karo Gusti (Allah).

Ya Emangbegitu.

Scroll To Top